
Aimas | Jawapost.Net
Reporter : QH.
Kemarau panjang yang berlangsung hampir tiga bulan mulai memukul sektor pertanian di Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya. Petani sayuran di kawasan Jalan Mamruk, RT 03/RW 05, Kelurahan Malasom, Distrik Aimas, kini menghadapi ancaman penurunan produksi hingga gagal panen akibat terbatasnya pasokan air.
Kondisi tersebut dirasakan langsung para petani yang mengandalkan tanaman tomat dan brokoli sebagai sumber penghasilan. Debit air yang semakin menurun membuat tanaman kesulitan tumbuh dan berkembang secara normal.
Budi dan Erik, petani setempat, mengatakan kemarau kali ini menjadi salah satu kondisi terberat yang mereka alami selama bertahun-tahun menggeluti usaha pertanian.
Menurut mereka, kekurangan air tidak hanya menghambat pertumbuhan tanaman, tetapi juga membuat daun mengering dan ukuran buah tomat menjadi lebih kecil.
“Selama kami bertani di sini sekitar sembilan tahun, baru kali ini kemaraunya separah ini. Produksi buah menurun dan perkembangan tanaman terganggu karena kekurangan air,” ujar Budi dan Erik saat ditemui Jawapost.Net, 9 April 2026.
Berbagai upaya telah dilakukan agar tanaman tetap bertahan. Bahkan, mereka terpaksa membeli air bersih untuk digunakan menyiram tanaman.
“Kami sampai harus membeli air bersih untuk menyiram tanaman agar tetap bisa berbuah dan hasil panennya lebih baik. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi kondisi alam seperti ini membuat kami hanya bisa pasrah kepada Allah SWT,” kata Erik.
Dampak kemarau juga terasa pada nilai ekonomi hasil pertanian. Produksi yang menurun serta kualitas buah yang tidak maksimal membuat pendapatan petani ikut tertekan.
Jika sebelumnya harga tomat yang mereka hasilkan berada di kisaran Rp10.000 hingga Rp15.000 per kilogram, kini harganya hanya sekitar Rp4.000–Rp5.000 per kilogram. Kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan ukuran buah yang lebih kecil akibat minimnya pasokan air.
Bagi Budi dan Erik, persoalan ini bukan sekadar berkurangnya hasil kebun. Pertanian merupakan sumber utama penghasilan mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Di tengah kemarau yang belum menunjukkan tanda berakhir, keduanya berharap kondisi cuaca segera membaik sehingga tanaman dapat kembali tumbuh normal dan hasil pertanian mereka bisa pulih.
Bagi para petani kecil, setiap tetes air kini menjadi penentu antara bertahan dan kehilangan hasil panen. (QH).
