Aimas | Jawapost.Net. — Sekitar 50 warga Jalan Timun dan Jalan Seledri, Kelurahan Malawele, Distrik Aimas, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, mendatangi pabrik tahu dan tempe, Sabtu (26/9/2026).

Warga memprotes bau menyengat dan dugaan pencemaran lingkungan yang disebut telah berlangsung selama 4–5 bulan.

Bau limbah disebut tercium hingga radius sekitar satu kilometer dan menyebar di sepanjang aliran sungai. Warga juga khawatir kondisi tersebut memicu berkembangnya nyamuk serta berdampak terhadap kesehatan masyarakat.

Perwakilan Dinas Lingkungan Hidup mengatakan pihaknya akan menindaklanjuti pengaduan warga dengan melakukan pemeriksaan dan meminta pengusaha membenahi pengelolaan limbah.

“Jika aturan tidak diindahkan, kami dapat memberikan teguran maupun tindakan. Kami juga sudah mengimbau agar limbah dinetralisasi sehingga tidak menimbulkan pencemaran,” ujarnya.

Pengusaha tahu, Heri, meminta maaf kepada warga dan mengakui adanya kelalaian dalam pengelolaan limbah. Ia menyatakan telah berupaya membuat IPAL dan tempat penampungan limbah.

“Kami mohon maaf. Kami siap menerima kritik dan saran dari warga. Kami juga sudah berusaha melakukan netralisasi limbah,” kata Heri.

Heri berharap pabrik tidak ditutup karena menjadi sumber penghasilan bagi dirinya dan para pekerja.

Sementara itu, warga meminta solusi konkret agar bau dan limbah tidak lagi mengganggu permukiman. Sebagian warga bahkan mengusulkan penghentian sementara aktivitas pabrik sampai pengelolaan limbah diperbaiki.

Warga berharap pengusaha dan instansi terkait segera mengambil langkah nyata agar kegiatan usaha tetap berjalan tanpa mengganggu lingkungan dan kenyamanan masyarakat.

Reporter: Qodir H

Baca Juga:  Warga Kuntili Tolak Titik Lokasi, Embung Batal Dibangun