Purwokerto (Jawapost.Net) — Generasi muda Indonesia tengah menghadapi krisis yang sunyi namun dalam : hilangnya peran ayah sebagai kompas keluarga. Fenomena fatherless bukan semata tentang absennya sosok ayah secara fisik, melainkan juga tentang kehadiran yang tanpa makna – ayah yang hadir, tetapi tak benar-benar ada.

Banyak dari mereka merasa cukup hanya dengan menjadi pencari nafkah, tanpa menyadari bahwa anak-anak membutuhkan bimbingan, perhatian emosional, dan keterlibatan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pandangan sosial kita, ayah seharusnya menjadi pemimpin keluarga, teladan, sekaligus penunjuk arah moral bagi anak-anaknya. Namun kenyataannya, banyak anak tumbuh tanpa kehadiran figur ayah yang aktif. Sebagian besar ayah terlalu larut dalam pekerjaan, sementara sebagian lain memilih menjauh dari tanggung jawab keluarga.

Akibatnya, generasi muda kini seperti kapal tanpa nahkoda terombang ambing di tengah badai globalisasi dan tekanan dunia digital, berusaha mencari arah sendiri tanpa panduan yang kokoh.

Absennya peran ayah bukan persoalan sepele. Ia menciptakan luka generasional yang dalam. Anak-anak dari keluarga fatherless lebih rentan mengalami krisis kepercayaan diri, gangguan emosional, hingga kesulitan membangun hubungan yang sehat di masa dewasa. Penelitian juga menunjukkan, kondisi ini meningkatkan risiko depresi, kecemasan, bahkan kenakalan remaja.

Meski begitu, di tengah krisis ini masih ada cahaya dari peran ibu. Sosok ibu menjadi pilar utama yang berusaha menambal kekosongan itu. Ia bukan hanya mengurus rumah dan anak-anak, tetapi juga menjadi pelindung dan pendidik utama di tengah kerasnya kehidupan. Namun, beban ini terlalu berat jika hanya ditanggung di satu sisi.

Komnas Perempuan menyoroti bahwa ketimpangan peran orang tua dapat berkontribusi pada meningkatnya kekerasan dalam rumah tangga dan hubungan yang tidak seimbang antar generasi. Anak-anak yang tumbuh tanpa contoh hubungan sehat berisiko mengulang pola yang sama di masa depan.

Baca Juga:  Kabid Propam Polda Jateng dan Kapolres Boyolali, Gelar Pasar Murah dan Bakti Sosial di Boyolali Kota

Sudah saatnya para ayah yang masih ada raganya juga benar-benar hadir jiwanya. Keterlibatan mereka bukan sekadar tentang uang, tetapi tentang kebersamaan dan perhatian sederhana seperti bertanya, “Bagaimana harimu?” Kehadiran emosional inilah yang menjadi kompas sejati bagi tumbuh kembang anak.

Ibu tidak boleh dibiarkan berjalan sendirian. Keduanya perlu bersinergi agar anak-anak memiliki arah yang jelas dan fondasi emosional yang kuat. Tanpa keutuhan itu, bangsa ini hanya akan melahirkan generasi yang bertahan, bukan berkembang. Karena sejatinya, keluarga yang utuh adalah kapal dengan dua nahkoda yang berlayar bersama menuju masa depan yang lebih pasti. (**).