
Purwokerto (Jawapost.net) — Kita hidup di zaman ketika segalanya berlangsung dalam hitungan detik. Makanan tiba hanya beberapa menit setelah dipesan, tugas kuliah bisa selesai lewat satu klik, bahkan hubungan dibangun melalui layar tanpa perlu tatap muka. Kecepatan kini menjadi tolok ukur keberhasilan.
- Namun di balik kemudahan itu, banyak anak muda yang terjebak dalam pola pikir instan. Ingin hasil tanpa proses, pengakuan tanpa perjuangan. Media sosial memperparahnya, menampilkan kesuksesan orang lain seolah semua bisa diraih dengan cepat. Padahal setiap orang memiliki waktu dan jalannya sendiri.
Budaya instan perlahan melemahkan daya juang. Kita menjadi mudah puas, cepat menyerah, dan enggan menghadapi proses panjang. Dalam dunia hukum, saya belajar bahwa keadilan tidak bisa diputuskan dalam sekejap. Segalanya membutuhkan asas, tahapan, dan pembuktian. Hukum menuntut kesabaran, ketelitian, serta komitmen terhadap kebenaran — nilai-nilai yang mulai pudar di tengah derasnya arus percepatan zaman.
- Di dunia pendidikan, gejala yang sama tampak nyata. Banyak mahasiswa menginginkan nilai tinggi tanpa belajar sungguh-sungguh, ingin lulus cepat tanpa memahami makna ilmu. Padahal segala yang instan jarang bertahan lama. Mie instan memang cepat dimasak, tapi tidak menyehatkan. Begitu pula hidup yang serba instan: tampak mudah di permukaan, tapi rapuh saat diuji.
Sudah saatnya kita berhenti membandingkan langkah. Hidup bukan tentang siapa yang paling cepat tiba, tetapi siapa yang paling kuat bertahan. Keberhasilan sejati lahir dari proses, bukan dari kecepatan. Menjadi generasi muda hari ini berarti berani melawan arus: berani gagal, belajar perlahan, dan mencoba kembali. Karena tidak ada makna tanpa perjuangan, dan tidak ada keberhasilan tanpa proses. (**).
