
PURBALINGGA|jawapost.net, 20 November 2025 – Aksi protes yang menggabungkan kreativitas dan keputusasaan terjadi di jalan penghubung Panican-Bajong, Kabupaten Purbalingga. Warga yang merasa diabaikan oleh pemerintah daerah menanami jalan rusak dengan pohon pisang, mengubahnya menjadi “kebun” dadakan yang ironis.
Aksi ini adalah bentuk sindiran terbuka terhadap lambannya respons pemerintah terhadap kerusakan infrastruktur yang sudah berlangsung lama. Salah seorang warga Panican, W (40), mengungkapkan kekesalannya saat diwawancarai awak media. Dengan nada bicara yang mencerminkan campuran antara kemarahan dan kepasrahan, ia berkata:
“Janji perbaikan sudah bertahun-tahun kami dengar, tapi jalane yo isih ngene wae (jalannya ya masih begini saja). Kalau pemerintah melihat, seharusnya mengerti bahwa kami hanya ingin jalan yang halus, biar enak (kepenak) seperti ini. Lha ini malah berlubang-lubang seperti jebakan.”
Kondisi jalan yang dipenuhi lubang besar tidak hanya menghambat aktivitas sehari-hari warga, tetapi juga menjadi penyebab utama kecelakaan, terutama bagi pengendara sepeda motor. Ironisnya, di saat pemerintah sering mempromosikan pembangunan dan kemajuan daerah, fasilitas vital seperti jalan desa justru dibiarkan dalam kondisi yang memprihatinkan.
W melanjutkan kritiknya dengan gaya bahasa yang halus namun menusuk: “Jalan ini adalah urat nadi warga. Kalau memang pemerintah peduli, mestinya tidak menunggu warga menanam pisang dulu. Kami ini hanya meminta yang sederhana: jalan halus, biar urusan rejeki, sekolah, kerja, semua lancar.”
Aksi tanam pisang ini, meski terlihat lucu bagi sebagian orang, sebenarnya adalah manifestasi dari keputusasaan warga yang merasa diabaikan selama bertahun-tahun. Mereka berharap langkah simbolis ini dapat menggugah hati pemerintah daerah untuk bertindak cepat dan memperbaiki jalan yang rusak.
“Kami tidak butuh janji-janji manis lagi. Kami butuh tindakan nyata. Jalan yang bagus adalah investasi untuk masa depan desa kami,” tegas W.
Hingga berita ini diturunkan, Pemerintah Kabupaten Purbalingga belum memberikan pernyataan resmi terkait aksi protes ini. Namun, publik berharap agar aksi damai namun tajam ini menjadi pengingat bagi pemerintah daerah bahwa pembangunan tidak hanya soal proyek-proyek besar, tetapi juga tentang memastikan jalan-jalan desa tetap alus (halus), sehingga semua warga bisa kepenak ngodene (nyaman seperti ini).
Aksi warga Panican-Bajong ini menjadi simbol dari harapan dan kekecewaan yang dirasakan oleh banyak komunitas di daerah-daerah yang infrastrukturnya belum mendapatkan perhatian yang layak. Ini adalah panggilan bagi pemerintah daerah untuk lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat dan memastikan bahwa pembangunan merata hingga ke pelosok desa.
