
KUBURAYA, Jawapost.net – Kerusakan parah jalan lintas Kalimantan Barat di kawasan Pasar Alas Kasuma, Dusun Karia Dua, Desa Kuala Dua, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, memicu kekecewaan warga.
Jalan utama yang menjadi akses vital ekonomi masyarakat itu dibiarkan rusak bertahun-tahun tanpa perbaikan berarti.
Aspal di sepanjang ruas jalan nyaris habis. Permukaan jalan kini dipenuhi batu dan kerikil yang timbul, membentuk lubang-lubang berbahaya sepanjang lebih dari dua kilometer.
Saat hujan, jalan licin dan rawan kecelakaan. Saat kering, debu tebal mengganggu aktivitas warga.
“Ini bukan rusak ringan, ini sudah tidak layak dilalui. Aspalnya tinggal cerita,” ujar warga Dusun Karia Dua.
Warga menilai kerusakan semakin parah akibat lalu lintas kendaraan berat bermuatan kayu, Tandan Buah Segar (TBS) sawit, serta hasil pertanian yang melintas setiap hari.
Namun hingga kini, belum ada langkah konkret dari Pemerintah Kabupaten Kubu Raya, khususnya Dinas PUPR, untuk melakukan perbaikan menyeluruh.
Kekecewaan warga semakin memuncak karena janji perbaikan jalan yang disampaikan pemerintah daerah saat masa kampanye tak kunjung terealisasi. Memasuki penghujung tahun 2025, kondisi jalan tetap rusak berat tanpa kejelasan penanganan.
“Katanya setelah terpilih jalan ini jadi prioritas. Sekarang sudah mau ganti tahun, yang berubah cuma lubangnya makin dalam,” kata warga lainnya dengan nada kesal.
Warga juga mempertanyakan transparansi penggunaan anggaran pembangunan jalan tahun 2025. Menurut mereka, jika anggaran tersedia, seharusnya perbaikan jalan tidak terus ditunda hingga tahun 2026.
“Kalau bukan tahun ini, uang jalan 2025 itu dipakai ke mana? Kami cuma minta hak kami sebagai warga,” ungkap seorang tokoh masyarakat setempat. Senin (15/12/2025).
Akibat kerusakan jalan, arus lalu lintas kerap tersendat hingga macet total, terutama saat kendaraan besar berpapasan. Kondisi ini dinilai menghambat distribusi hasil pertanian dan aktivitas ekonomi warga.
Masyarakat Dusun Karia Dua mendesak Pemkab Kubu Raya segera turun tangan dan melakukan perbaikan menyeluruh sebelum jalan tersebut memakan korban jiwa. Mereka menegaskan, jalan bukan sekadar infrastruktur, tetapi urat nadi kehidupan warga yang tak bisa terus diabaikan. (Shlh).
