BANYUMAS [JAWAPOST] – Purwokerto,17 September 2025. Ada ungkapan lama yang masih relevan hingga kini : Bila urusan penting diserahkan kepada mereka yang bukan ahlinya, kehancuran hanya tinggal menunggu waktu. Ungkapan itu kini bukan sekedar peringatan, melainkan kenyataan yang kita saksikan setiap hari.

Delapan dekade Indonesia merdeka, rakyat masih dipertontonkan drama politik yang jauh dari cita-cita luhur. Pemilu yang seharusnya menjadi pesta demokrasi berubah menjadi ajang perebutan status dan kekuasaan. Kandidat maju dengan modal uang dan ambisi, bukan dengan niat tulus mengabdi. Begitu terpilih, janji-janji tinggal retorika, sementara kepentingan pribadi dan kelompok menjadi panglima.

Tak heran jika politik uang, manipulasi, dan kepentingan sempit semakin menjerat negeri ini. Indonesia yang diharapkan kuat dan sejahtera justru tampak rapuh, seperti gunung yang indah dari kejauhan tapi penuh jurang berbahaya ketika didaki.

Kesenjangan sosial makin terasa. Ada segelintir orang yang hartanya tak habis tujuh turunan, ada yang bergelimang gelar akademik, namun jutaan rakyat kecil masih berjuang hanya untuk sekedar bertahan hidup dengan kejujuran dan syukur. Ironinya, mereka yang berkuasa justru kerap jatuh pada sifat sombong, tamak, dan merasa diri paling benar—padahal sejarah sudah berulang kali mengingatkan, dari Fir’aun hingga tokoh lain, bahwa kesombongan hanyalah jalan menuju kehancuran.

Masa depan bangsa ini sejatinya ditentukan oleh para pemimpin: di eksekutif, legislatif, yudikatif, juga tokoh masyarakat, agama, akademisi, hingga insan pers. Mereka mestinya hadir bukan untuk saling menjatuhkan, melainkan bekerja bersama rakyat, membangun dengan cerdas dan berjiwa besar.

Indonesia akan benar-benar merdeka hanya bila para pemimpinnya ingat bahwa kekuasaan, harta, dan jabatan bukanlah milik abadi. Yang tersisa hanyalah amal, kejujuran, dan keberanian untuk menolak menjadi badut serakah dalam panggung kekuasaan.

Baca Juga:  Guru di Kayong Utara Diduga Nikah Siri dengan Pengusaha Sawit, Suami Polisi Laporkan ke Polres

[Oleh : Aris Sutijono, Mahasiswa UHB Purwokerto].