Jakarta | Jawapost.net

Upaya meningkatkan kualitas pendidikan di kawasan transmigrasi mendapat dukungan lintas kementerian. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Kementerian Transmigrasi (Kementrans) kini membuka ruang kolaborasi yang lebih luas untuk memperkuat sarana pendidikan, mulai dari pembangunan fasilitas sanitasi hingga penguatan tenaga pengajar di wilayah transmigrasi dan daerah tertinggal.

Langkah sinergis tersebut mengemuka dalam pertemuan antara Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemerataan Pendidikan Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T), Dr. Rita Pranawati, S.S., M.A., dengan Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, di Gedung Makarti, Kompleks Kantor Kementerian Transmigrasi, Kalibata, Jakarta, pada 15 Juni 2026.

Dalam pertemuan itu, Rita Pranawati menyampaikan pentingnya kerja sama antarkementerian untuk mempercepat pembangunan dan rehabilitasi toilet sekolah yang layak di kawasan transmigrasi serta wilayah 3T. Menurutnya, kebutuhan fasilitas sanitasi yang memadai masih menjadi pekerjaan besar pemerintah.

Data yang disampaikan menunjukkan sedikitnya 70 ribu sekolah dari jenjang PAUD hingga SMA masih membutuhkan pembangunan maupun rehabilitasi toilet agar memenuhi standar kelayakan. Selain itu, terdapat usulan pembangunan rumah dinas guru guna mendukung peningkatan kualitas pendidikan di daerah-daerah yang masih menghadapi keterbatasan fasilitas.

Tak hanya fokus pada infrastruktur, Kemendikdasmen juga menawarkan program Relawan Mengajar sebagai bentuk penguatan sumber daya manusia pendidikan. Program tersebut dirancang untuk menghadirkan tenaga pengajar relawan ke sekolah-sekolah yang berada di kawasan transmigrasi dan daerah terpencil.

Menanggapi hal itu, Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi menyambut baik perhatian Kemendikdasmen terhadap program yang selama ini telah dijalankan Kementrans. Ia menilai kolaborasi antarlembaga menjadi kunci untuk mempercepat pemerataan kualitas pendidikan di berbagai wilayah Indonesia.

Baca Juga:  Kebijakan Pemerintah dalam Mengatasi Kemiskinan : Antara Harapan dan Realita

“Kami merasa senang karena program yang telah dijalankan Kementerian Transmigrasi mendapat perhatian dan dukungan dari kementerian lain. Ini menunjukkan bahwa pembangunan kawasan transmigrasi membutuhkan kerja bersama,” ujar Viva Yoga.

Selama beberapa tahun terakhir, Kementrans aktif melakukan pembangunan dan rehabilitasi fasilitas sanitasi sekolah di sejumlah kawasan transmigrasi. Salah satu program yang mendapat perhatian adalah pembangunan toilet di SDN 10 Pulubala, Kecamatan Pulubala, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo.

Dalam kunjungan kerjanya, Viva Yoga meninjau sekaligus meresmikan fasilitas tersebut. Ia berharap keberadaan sarana sanitasi yang layak dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat dan nyaman bagi anak-anak transmigran maupun masyarakat sekitar.

Program serupa juga dilaksanakan di SDN 14 Sumalata yang berada di Kawasan Transmigrasi Sumalata, Kabupaten Gorontalo Utara. Saat meninjau lokasi, Viva Yoga menegaskan bahwa fasilitas toilet yang bersih bukan hanya mendukung kesehatan siswa, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan kualitas pendidikan.

Sebelumnya, Kementrans juga melakukan pemantauan langsung di SD Inpres 13 yang berlokasi di Kampung Udapi Hilir, Kawasan Transmigrasi Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Dalam kunjungan tersebut, perhatian tidak hanya tertuju pada ruang kelas, tetapi juga fasilitas toilet serta akses air bersih yang menjadi kebutuhan dasar bagi siswa dan tenaga pendidik.

“Kami hadir untuk memastikan berbagai program Kementerian Transmigrasi berjalan dan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” kata Viva Yoga.

Terkait usulan Program Relawan Mengajar, Viva Yoga menilai konsep tersebut memiliki potensi besar untuk dikolaborasikan dengan Program Trans Patriot yang telah dijalankan Kementrans sejak 2025 dan akan kembali dilaksanakan tahun ini.

Program Trans Patriot melibatkan para sarjana, magister, doktor hingga guru besar dari berbagai perguruan tinggi negeri unggulan maupun kampus daerah untuk melakukan riset dan pendampingan di kawasan transmigrasi. Fokus kegiatan mencakup pengembangan potensi sumber daya alam, ekonomi, budaya hingga sektor pariwisata.

Baca Juga:  Bupati Sadewo Dorong Masyarakat Banyumas Berbuat Baik dengan Gerakan Cinta Zakat

“Dalam ruang kolaborasi itulah Program Relawan Mengajar dapat disinergikan sehingga manfaatnya semakin luas bagi masyarakat kawasan transmigrasi,” jelasnya.

Sebagai tindak lanjut, Kementrans membuka kesempatan bagi Kemendikdasmen untuk mempresentasikan Program Relawan Mengajar dalam agenda pembekalan 1.476 peserta Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Tahun 2026.

Kolaborasi ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerataan pendidikan tidak bisa dilakukan secara sektoral. Dengan sinergi yang semakin erat antara Kemendikdasmen dan Kementrans, harapan menghadirkan sekolah yang layak, lingkungan belajar yang sehat, serta akses pendidikan yang berkualitas bagi anak-anak di kawasan transmigrasi kian mendekati kenyataan.

Pewarta : (Shlh)