AIMAS | Jawapost.Net — Kemarau panjang yang berlangsung berbulan-bulan mulai terasa langsung di pasar tradisional Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya.

Terbatasnya pasokan air membuat sejumlah petani mengalami penurunan produksi, yang kemudian ikut mendorong kenaikan harga berbagai jenis sayuran di Pasar Pagi Warmon, Kelurahan Malawele, Distrik Aimas.

Pantauan di Pasar Pagi Warmon, Sabtu (26/9/2026), menunjukkan harga sejumlah komoditas mengalami kenaikan cukup tajam. Pedagang menyebut kondisi tersebut berkaitan dengan kemarau yang telah berlangsung lebih dari empat bulan dan berdampak pada hasil panen petani.

Abi, salah seorang pedagang di Pasar Warmon, mengatakan hampir seluruh jenis sayuran mengalami kenaikan harga. Cabai rawit yang sebelumnya berada di kisaran Rp60 ribu per kilogram kini mencapai sekitar Rp100 ribu.

Sementara cabai besar yang semula sekitar Rp55 ribu per kilogram juga naik menjadi sekitar Rp100 ribu.

Kenaikan paling mencolok terjadi pada timun. Menurut Abi, komoditas tersebut yang biasanya dijual sekitar Rp150 ribu per karung kini sempat mencapai Rp700 ribu per karung.

“Memang hampir semua jenis sayuran naik drastis. Banyak petani gagal panen karena ketersediaan air semakin menipis. Akibatnya, pasokan di tingkat petani berkurang,” ujar Abi.

Meski demikian, ia menyebut harga beberapa komoditas mulai mengalami penurunan setelah pasokan didatangkan dari Manokwari.

Langkah tersebut sedikit membantu memenuhi kebutuhan pasar di tengah berkurangnya produksi lokal akibat musim kemarau berkepanjangan.

Dampak kenaikan harga juga dirasakan pelaku usaha makanan. Yuli (50), pedagang nasi di sekitar Pasar Warmon, mengatakan kenaikan harga bahan baku membuat biaya usaha ikut terdorong, sementara harga jual nasi tidak mudah dinaikkan.

“Dulu sayuran satu ikat sekitar Rp5.000, sekarang bisa Rp10.000 sampai Rp15.000. Timun yang biasanya satu tumpuk sekitar Rp10.000, sekarang bisa mencapai Rp50.000,” kata Yuli.

Baca Juga:  MPC Pemuda Pancasila Cilacap Tegaskan Poster Aksi May Day Hoaks, Minta Publik Tetap Tenang

Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana kemarau tidak hanya berdampak pada lahan pertanian, tetapi juga merambat ke rantai perdagangan hingga pelaku usaha kecil.

Ketika hasil panen menurun dan pasokan menyusut, tekanan harga akhirnya dirasakan pedagang maupun konsumen.

Bagi masyarakat Aimas, pasar menjadi cermin nyata dampak musim kering yang berkepanjangan. Harga komoditas yang terus bergerak menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi rumah tangga dan pelaku usaha makanan yang setiap hari bergantung pada ketersediaan bahan pangan.

Reporter : (Qodir H).