
Banyumas | Jawapost.Net
Reporter : Shlh.
Setelah sekitar empat tahun menanti, warga Grumbul Cibun, Desa Sunyalangu, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas, akhirnya kembali melihat harapan terwujudnya jembatan permanen yang selama ini mereka nantikan.
Pembangunan jembatan di atas Sungai Logawa, ruas jalan Baseh–Sunyalangu, resmi dilanjutkan melalui tahap keempat, Senin (24/8/2026).
Dimulainya proyek tersebut ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono. Kegiatan itu turut dihadiri anggota DPR RI Yanuar Arif Wibowo serta Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Banyumas Kresnawan.
Kepala Dinas PU Banyumas Kresnawan mengatakan, tahap keempat merupakan kelanjutan pekerjaan konstruksi yang didukung bantuan gelagar dari pemerintah pusat.
Menurutnya, dukungan pemerintah pusat tidak lepas dari pengawalan dan koordinasi anggota DPR RI Yanuar Arif Wibowo. Nilai bantuan tersebut mencapai sekitar Rp5 miliar.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Pak Yanuar yang ikut mengawal kegiatan ini sehingga Banyumas mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat sekitar Rp.5 miliar,” kata Kresnawan.
Selain bantuan dari pemerintah pusat, pembangunan jembatan juga mendapat dukungan anggaran dari APBD Kabupaten Banyumas sebesar Rp2,1 miliar.

Kresnawan menegaskan, pembangunan jembatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada tahap saat ini. Pemerintah daerah masih menyiapkan kelanjutan pembangunan akses jalan di sisi seberang jembatan agar konektivitas masyarakat semakin terbuka.
“Kami berharap pekerjaan ini tidak berhenti. Masih ada tahapan berikutnya, yakni meneruskan jalan di seberang jembatan,” ujarnya.
Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono menyatakan, pemerintah daerah akan terus memperjuangkan kelanjutan pembangunan jalan tersebut. Namun, pembangunan lanjutan diperkirakan membutuhkan waktu karena berkaitan dengan kemampuan anggaran daerah.
“Kalau tahun 2027 sepertinya agak sulit. Mudah-mudahan nanti 2028 sudah bisa berjalan,” ujar Sadewo.
Jalan lanjutan itu dinilai penting karena jembatan yang ada saat ini belum sepenuhnya mampu mendukung mobilitas kendaraan. Untuk sementara, akses tersebut baru dapat dilalui kendaraan roda dua.
Terkait kebutuhan pelebaran jalan, Sadewo menyebut masyarakat telah menyatakan kesediaannya untuk mendukung pembangunan tanpa meminta ganti rugi atas lahan yang digunakan.
“Saya tadi menanyakan kepada warga terkait lahan mereka. Mereka siap tanpa meminta ganti rugi,” katanya.

Bagi warga Grumbul Cibun, keberadaan jembatan bukan sekadar infrastruktur penghubung, tetapi menjadi akses penting untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.
Wartun, warga Grumbul Cibun RT 8, mengatakan kelanjutan pembangunan jembatan tersebut merupakan kabar yang telah lama ditunggu masyarakat. Harapan itu muncul sejak pembangunan tahap ketiga selesai sekitar akhir 2022.
Ia mengungkapkan, sebelum jembatan gantung dibangun pada 2004, warga bahkan harus menyeberangi Sungai Logawa untuk beraktivitas.
“Waktu sebelum ada jembatan gantung pada 2004, kami menyeberang lewat sungai,” tutur Wartun.
Menurutnya, akses jembatan sangat menentukan mobilitas warga. Ketika jembatan tidak dapat digunakan karena pekerjaan konstruksi, masyarakat harus menempuh perjalanan jauh untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Waktu dulu ada pekerjaan di jembatan ini, kami tidak bisa ke mana-mana. Kalau mau ke pasar harus jalan ke Sokawera. Jauh sekali,” ungkapnya.
Jembatan permanen yang kini kembali dibangun memiliki panjang sekitar 60 meter dan lebar 8 meter. Pekerjaan ditargetkan rampung dalam waktu lima bulan.
Bagi masyarakat Cibun, pembangunan tersebut diharapkan menjadi titik awal terbukanya akses yang lebih baik, sekaligus mengakhiri ketergantungan terhadap jembatan gantung yang selama bertahun-tahun menjadi urat nadi mobilitas warga. (**).
