
Aimas | Jawapost.Net. — Ancaman banjir yang mengintai permukiman dan lahan pertanian saat musim hujan membuat sekitar 16 warga Jalan Tuturuga SP 1, RT 05/RW 05, Kelurahan Klamalu, Distrik Mariat, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, mendatangi Kantor Kelurahan Klamalu, Rabu (21/10/2026). Warga mendesak agar timbunan dan pembongkaran jembatan yang dinilai menghambat aliran air segera ditangani sebelum hujan deras memicu banjir di lingkungan mereka.
Warga khawatir perubahan jalur aliran air akan memperparah genangan, mengancam keselamatan permukiman, serta merugikan petani yang menggantungkan penghidupan pada lahan pertanian di sekitar lokasi. Mereka meminta pemerintah dan pihak terkait segera turun tangan untuk mencari solusi nyata, bukan sekadar membiarkan persoalan berlarut-larut hingga banjir benar-benar terjadi.
Salah seorang warga, Aan, mengatakan pembongkaran jembatan dan penimbunan tersebut menjadi sumber keresahan masyarakat. Menurutnya, jembatan itu sebelumnya dibangun oleh pemerintah dan berada di area yang disebut warga sebagai bahu jalan.
Ia menegaskan, warga meminta agar timbunan dibongkar dan aliran air dikembalikan ke jalur yang semestinya. Warga juga mempertanyakan ke mana harus mengadu apabila banjir menggenangi permukiman dan merusak lahan pertanian mereka.
Dalam pertemuan tersebut, warga berharap persoalan dapat diselesaikan sebelum musim hujan tiba. Mereka meminta pihak terkait segera meluruskan aliran air agar tidak mengarah ke permukiman maupun lahan pertanian.
Sementara itu, pemilik tanah yang akrab disapa Haji menjelaskan bahwa dirinya tidak bermaksud menutup aliran air, melainkan mengalihkannya. Namun, ia mengakui telah membongkar jembatan tanpa terlebih dahulu berkoordinasi dengan pengurus RT, lurah, maupun pihak distrik.

Ia pun menyampaikan permohonan maaf atas tindakan tersebut dan berharap persoalan dapat diselesaikan melalui musyawarah yang mengakomodasi kepentingan semua pihak.
Dari pihak pemilik tanah, kuasa hukum turut mempertanyakan status lahan yang disebut semula seluas 9.000 meter persegi dan kini tersisa sekitar 7.000 meter persegi. Ia meminta kejelasan mengenai rencana pemerintah untuk membangun saluran irigasi permanen agar kepentingan pemilik tanah dan kebutuhan masyarakat dapat diakomodasi.
Lurah Klamalu, Wahyudi, S.IP., yang bertindak sebagai penengah, mengatakan pihaknya berupaya mempertemukan kepentingan warga dan pemilik tanah. Namun, karena musyawarah belum menghasilkan kesepakatan, pihak kelurahan berencana mengundang dinas terkait, termasuk Dinas Pekerjaan Umum (PU), Bappeda Kabupaten Sorong, serta DPRD Kabupaten Sorong untuk membahas penyelesaian lebih lanjut.
Pertemuan tersebut turut dihadiri Kepala Distrik Mariat Khodim, Babinsa Kelurahan Klamalu Serma Sudarno dari Koramil 07/Aimas, serta Bhabinkamtibmas Kelurahan Klamalu Aiptu Naji Jimantoro dari Polsek Aimas.
Warga berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret untuk memastikan kelancaran aliran air dan mencari solusi yang adil bagi seluruh pihak. Bagi masyarakat setempat, penyelesaian persoalan ini menjadi mendesak agar ancaman banjir tidak berubah menjadi kerugian nyata bagi permukiman dan lahan pertanian ketika musim hujan tiba.
Pertemuan berlangsung aman dan terkendali. Warga kini menantikan tindak lanjut pemerintah daerah untuk menyelesaikan persoalan tersebut sebelum dampaknya semakin meluas.
Reporter: Qodir H
SAELAN







