JAWAPOST.NET | PURBALINGGA – Momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 kembali menjadi pengingat bahwa sektor pendidikan Indonesia masih menghadapi tantangan serius, terutama dalam menjawab kebutuhan zaman yang kian dinamis.

Direktur Utama PT Digital Indo Group, Rasmono, SH, menilai bahwa sistem pendidikan nasional perlu bergerak lebih cepat agar tidak tertinggal dari laju perkembangan teknologi dan industri.

Menurutnya, salah satu persoalan yang masih terlihat adalah kesenjangan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja. Banyak tenaga kerja muda yang dinilai belum sepenuhnya siap menghadapi tuntutan industri yang semakin kompetitif.

“Perubahan terjadi sangat cepat. Kalau sistem pendidikan tidak ikut menyesuaikan, maka jarak antara lulusan dan kebutuhan industri akan semakin lebar,” ujarnya.

Rasmono menekankan bahwa pendidikan tidak cukup hanya berfokus pada capaian akademik. Pembelajaran harus diarahkan pada penguatan keterampilan praktis, kemampuan berpikir kritis, serta kesiapan beradaptasi di lingkungan kerja nyata.

Selain itu, ia menyoroti pentingnya penguatan literasi digital di semua jenjang pendidikan. Di tengah arus informasi yang tidak terbendung, kemampuan menyaring informasi dan menggunakan teknologi secara bijak menjadi kebutuhan mendasar.

“Literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan perangkat, tetapi juga bagaimana memanfaatkan teknologi untuk hal yang produktif dan tidak mudah terjebak informasi keliru,” jelasnya.

Dalam pandangannya, keterlibatan dunia industri menjadi kunci untuk menjembatani kesenjangan tersebut. Ia mendorong adanya kolaborasi yang lebih konkret antara perusahaan dengan lembaga pendidikan, seperti program magang, pelatihan, hingga pendampingan bagi pelajar dan mahasiswa.

Meski demikian, Rasmono mengingatkan bahwa penguatan karakter tetap menjadi fondasi utama dalam pendidikan. Nilai integritas, disiplin, dan tanggung jawab dinilai harus terus ditanamkan di tengah perkembangan teknologi.

“Teknologi bisa berkembang, tetapi karakter adalah penentu arah. Tanpa itu, kemajuan justru bisa membawa dampak negatif,” tegasnya.

Baca Juga:  Longsor di Logandu Seret Pos Ronda, Polisi Pasang Peringatan Dini

Ia juga mengakui masih adanya persoalan klasik di sektor pendidikan, seperti ketimpangan akses antarwilayah, kualitas tenaga pengajar, serta keterbatasan infrastruktur di sejumlah daerah.

Dalam peringatan Hardiknas ini, Rasmono turut memberikan apresiasi kepada para guru yang dinilai sebagai ujung tombak pendidikan. Menurutnya, peran guru tetap vital dalam membentuk pola pikir dan karakter generasi muda.

“Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga pembimbing dan sumber inspirasi. Perannya tidak bisa digantikan oleh teknologi,” katanya.

Menutup pernyataannya, ia mengajak seluruh pihak untuk memperkuat sinergi dalam membangun pendidikan nasional yang lebih relevan dan berdaya saing.

Hardiknas 2026 diharapkan menjadi titik dorong bagi lahirnya kebijakan dan langkah nyata untuk menciptakan sistem pendidikan yang mampu menjawab tantangan global serta menyiapkan generasi unggul di masa depan.