
JAWAPOST.NET | Banyumas — Ratusan warga Desa Banjar Anyar, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas, menggelar aksi demonstrasi menuntut Kepala Desa Banjar Anyar, Robi Wibowo S.Sos, mundur dari jabatannya, Senin (11/5/2026).
Aksi berlangsung dengan konvoi keliling desa menggunakan sepeda motor dan mobil yang dipenuhi poster, spanduk, serta berbagai tulisan bernada protes terhadap kepemimpinan kepala desa.
Massa bergerak menyusuri sejumlah ruas jalan sambil menyampaikan tuntutan secara terbuka menggunakan pengeras suara.
Kehadiran ratusan warga menarik perhatian masyarakat sekitar. Aparat kepolisian turut melakukan pengawalan guna menjaga situasi tetap aman dan kondusif selama aksi berlangsung.
Koordinator aksi, Yulianto, saat orasi di halaman gedung desa setempat menyebut terdapat sedikitnya 14 tuntutan warga yang menjadi dasar desakan agar kepala desa mundur diri jabatannya.

Warga menyoroti sejumlah persoalan, mulai dari dugaan mangkraknya pembangunan kolam renang desa dan lapangan sepak bola, dugaan penggelapan dana Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), hingga dugaan penyelewengan dana sewa lahan untuk dapur MBG.
Selain persoalan anggaran, warga juga menyoroti dugaan masalah moral yang menyeret nama kepala desa.
Dugaan perselingkuhan dengan dua warga disebut memicu keretakan rumah tangga hingga berujung perceraian.
Isu tersebut dinilai semakin memperbesar kekecewaan masyarakat terhadap kepemimpinan desa meskipun kepala desa sudah dilaporkan ke inspektorat dan ke Polresta Banyumas tapi hasil nihil.
Warga desa Banjaranyar hanya satu kata minta kepala desa harus mundur dari jabatan.
Sementara itu, Camat Pekuncen, Dhany Budiarto S.STP, mengatakan pihaknya akan mengawal proses penyelesaian persoalan tersebut sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Ia menegaskan seluruh laporan masyarakat memerlukan alat bukti yang kuat dan harus diproses secara terpisah antara persoalan pribadi maupun kelembagaan.
“Semua akan diproses sesuai aturan. Masyarakat diminta bersabar karena setiap laporan membutuhkan pembuktian yang jelas,” ujarnya.
Di tengah jalannya aksi, sejumlah perwakilan warga bersama unsur Forkopimcam menggelar Musyawarah Desa Khusus (Musdesus) guna membahas tuntutan massa, berlangsung di aula balai desa.
Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga situasi tetap kondusif serta mencegah potensi gesekan di lapangan.
Hingga demonstrasi berakhir, aparat kepolisian masih bersiaga di lokasi untuk mengantisipasi perkembangan situasi lebih lanjut. Hasil Musdesus disebut akan ditindaklanjuti ke tingkat kabupaten sesuai mekanisme yang berlaku. (Shlh).
