PURBALINGGA, JAWAPOST.NET – Suasana penuh kebersamaan dan nuansa budaya mewarnai pelaksanaan Tirta Amarta Festival 2026 yang digelar masyarakat Desa Karangcegak, Kecamatan Kutasari, Kabupaten Purbalingga, Rabu (24/6/2026).

Kegiatan yang menjadi bagian dari tradisi Ruwat Bumi tersebut merupakan bentuk rasa syukur warga atas keberadaan empat sumber mata air yang hingga kini terus mengalir tanpa pernah mengalami kekeringan.

Ratusan warga tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan yang menggabungkan unsur budaya, gotong royong, serta kepedulian terhadap lingkungan. Festival ini juga menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan masyarakat sekaligus menjaga warisan budaya leluhur yang telah diwariskan secara turun-temurun.Kepala Desa Karangcegak, Eko Rastono, S.Pd.I., mengatakan bahwa keberadaan sumber mata air menjadi anugerah yang sangat berharga bagi masyarakat desa. Menurutnya, air tidak hanya menjadi kebutuhan pokok, tetapi juga penopang kehidupan warga dalam berbagai sektor.

“Alhamdulillah, hingga saat ini empat sumber mata air di Desa Karangcegak tetap mengalir meskipun memasuki musim kemarau. Ini merupakan nikmat yang harus terus kita syukuri dan jaga bersama agar dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang,” ujarnya.

Ia menambahkan, Tirta Amarta Festival tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan budaya semata, tetapi juga menjadi sarana edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan dan kelestarian sumber daya air.Tokoh masyarakat Karangcegak, Harsono, S.Sos., mengajak seluruh warga untuk menjaga keamanan dan ketertiban selama pelaksanaan festival berlangsung.

“Kegiatan ini adalah milik bersama. Mari kita jaga kerukunan dan persaudaraan agar seluruh rangkaian acara berjalan lancar, aman, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Camat Kutasari, Tri Wahyu Dini Susanti, S.STP., memberikan apresiasi kepada masyarakat Desa Karangcegak yang secara konsisten melestarikan tradisi Ruwat Bumi setiap tahunnya.

Baca Juga:  Pembangunan Pusat Informasi Wisata di Purbalingga untuk Meningkatkan Pelayanan kepada Wisatawan

Menurutnya, tradisi tersebut memiliki nilai penting dalam menjaga identitas budaya daerah di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan perubahan pola hidup masyarakat modern.

“Pelestarian budaya harus terus dilakukan agar generasi muda tetap mengenal dan mencintai warisan leluhurnya. Kegiatan ini merupakan wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus bentuk kepedulian masyarakat terhadap lingkungan dan sumber kehidupan,” ungkapnya.

Tri Wahyu Dini Susanti juga menyoroti kuatnya semangat gotong royong warga dalam menyukseskan kegiatan yang sebagian besar didukung melalui swadaya masyarakat.Ketua PKRT Desa Karangcegak, Bekti Wibowo, berharap Tirta Amarta Festival dapat terus menjadi agenda rutin yang mampu memperkuat solidaritas warga sekaligus menjaga eksistensi budaya lokal.

“Kami berharap kegiatan ini terus berlangsung setiap tahun sehingga nilai-nilai budaya, gotong royong, dan kebersamaan tetap hidup di tengah masyarakat,” ujarnya.

Acara pembukaan festival semakin semarak dengan penampilan Tari Gambyong dari Sanggar Arunica Karangcegak yang berhasil memukau para tamu undangan dan masyarakat yang hadir.Rangkaian Tirta Amarta Festival 2026 dijadwalkan mencapai puncaknya melalui pagelaran wayang kulit yang menjadi salah satu tradisi paling dinantikan warga setiap tahun.

Melalui festival ini, masyarakat Karangcegak menunjukkan bahwa pelestarian budaya dan kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan beriringan. Tradisi Ruwat Bumi pun terus menjadi simbol rasa syukur atas karunia sumber air yang melimpah sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat di tengah perkembangan zaman.

(Redaksi JAWAPOST.NET)