
Kebumen | Jawapost.Net
Reporter : Shlh.
Derasnya arus informasi digital membuat kemampuan menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) saja tidak lagi cukup. Pelajar juga dituntut mampu memeriksa kebenaran informasi, mengenali konten manipulatif, dan menahan diri sebelum ikut menyebarkan hoaks.
Pesan tersebut menjadi salah satu fokus pelatihan AI yang digelar Polres Kebumen di SMA Negeri 1 Buluspesantren, Jumat (11/9/2026). Kegiatan diikuti para siswa kelas X dan XI sebagai bagian dari upaya membangun kecakapan digital di kalangan generasi muda.
Kapolres Kebumen AKBP I Putu Bagus Krisna Purnama mengatakan perkembangan AI telah mengubah cara masyarakat memproduksi sekaligus menerima informasi. Kemajuan teknologi tersebut membuat konten digital semakin mudah dibuat, termasuk konten yang menyerupai kenyataan tetapi sesungguhnya telah mengalami manipulasi.
“Di era AI, kita tidak cukup hanya bertanya apakah sebuah informasi menarik. Kita juga harus bertanya apakah informasi itu benar, dari mana sumbernya, dan apa tujuannya,” kata AKBP I Putu Bagus Krisna Purnama.
Menurutnya, AI memiliki manfaat besar bagi dunia pendidikan. Teknologi tersebut dapat membantu pelajar mencari referensi, mengembangkan gagasan, mendukung proses belajar, hingga mendorong kreativitas.
Namun di sisi lain, AI juga dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan informasi palsu yang sulit dibedakan dari kenyataan. Foto dapat direkayasa, suara seseorang dapat ditiru, sementara video dapat dibuat seolah-olah seseorang mengucapkan atau melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi.

Kondisi tersebut membuat literasi digital menjadi semakin penting. Tanpa kemampuan melakukan verifikasi, pelajar bukan hanya berisiko menjadi korban informasi palsu, tetapi juga dapat ikut memperpanjang rantai penyebaran hoaks.
Karena itu, Polres Kebumen mengajak para siswa membangun kebiasaan sederhana saat menerima informasi di ruang digital. Tidak langsung percaya, memeriksa sumber informasi, membandingkannya dengan sumber lain, serta tidak terburu-buru membagikan konten menjadi langkah penting untuk mencegah penyebaran informasi yang keliru.
“Jangan sampai kita menjadi pengguna teknologi yang cepat membuat dan cepat membagikan informasi, tetapi tidak sempat memeriksa kebenarannya,” ujarnya.
Pelatihan tersebut merupakan bagian dari program Polres Kebumen Paham AI di bawah Senopati Institut yang bekerja sama dengan Polda Jateng. Program ini dilaksanakan secara bergilir di sejumlah sekolah di wilayah Kebumen.
Dalam kegiatan tersebut, para trainer Polres Kebumen memberikan materi mulai dari pengenalan dasar AI, etika penggunaan teknologi, pemanfaatan AI untuk mendukung pembelajaran, hingga cara mengenali hoaks dan konten deepfake.
Pelajar menjadi sasaran penting program tersebut karena merupakan salah satu kelompok yang paling aktif berinteraksi dengan dunia digital. Dengan bekal pemahaman yang memadai, teknologi diharapkan tidak berhenti sebagai sarana membuat dan mengonsumsi konten, tetapi dapat dimanfaatkan secara cerdas untuk belajar, berkarya, dan mengembangkan potensi diri.
Di tengah teknologi yang semakin mampu membuat sesuatu terlihat nyata, kemampuan untuk berhenti, berpikir, memeriksa, dan memastikan kebenaran menjadi bekal penting bagi generasi muda agar tidak mudah terseret arus informasi digital.
(**).
