
Pemalang | Jawapost.Net
Dentuman musik tradisional berpadu dengan gemulai tarian nusantara mengguncang kawasan Pantai Widuri, Kabupaten Pemalang, dalam peringatan Hari Tari Sedunia 2026.
Ratusan penari dari berbagai sanggar tampil penuh energi dan warna, menjadikan panggung budaya itu bukan sekadar hiburan, tetapi juga simbol kuat kebangkitan kecintaan generasi muda terhadap warisan bangsa.
Di tengah semarak pertunjukan, Bupati Pemalang mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak melupakan akar budaya di tengah derasnya arus modernisasi.
Sebab zaman boleh berubah cepat, tetapi identitas bangsa tidak boleh ikut hanyut hanya karena manusia lebih hafal tren media sosial dibanding tari daerahnya sendiri. Ironis, tapi begitulah dunia bekerja akhir-akhir ini.
Peringatan Hari Tari Sedunia yang digelar Pemerintah Kabupaten Pemalang melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan itu berlangsung meriah dengan melibatkan sekitar 200 penari dari 14 sanggar tari.
Seluruh peserta mengenakan beragam kostum adat dari berbagai daerah di Indonesia, menciptakan lautan warna budaya yang memikat perhatian masyarakat.
Bupati Anom, didampingi Kepala Disparbud Pemalang , bahkan turut larut dalam flashmob tarian nusantara bersama para penari.
Momen tersebut langsung menyedot antusiasme warga yang memadati area pertunjukan di kawasan pantai.
Menurut Anom, Hari Tari Sedunia bukan hanya seremoni tahunan, melainkan pengingat penting bahwa budaya adalah identitas yang harus dijaga bersama.
“Para penari ini bukan hanya tampil menghibur, tetapi sedang menjaga jati diri budaya dan mempererat rasa persaudaraan. Jangan pernah lelah berlatih dan terus lestarikan kebudayaan kita,” ujar Anom.
Ia mengaku bangga melihat semangat sanggar-sanggar tari di Kabupaten Pemalang yang tetap aktif berkarya dan konsisten menjaga tradisi di tengah perkembangan zaman yang semakin digital.
Anom juga berharap pertunjukan seni tidak hanya hadir dalam acara formal pemerintahan, tetapi bisa lebih dekat dengan masyarakat melalui ruang-ruang publik terbuka seperti Pantai Widuri, City Walk, maupun pusat keramaian lainnya.
“Saya ingin seni tari hidup di tengah masyarakat. Budaya harus bisa dinikmati semua kalangan sebagai bentuk kecintaan terhadap bangsa,” katanya.
Sementara itu, Kepala Disparbud Kabupaten Pemalang menjelaskan, kegiatan tersebut digelar untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap seni tari, mempererat silaturahmi antarsanggar, sekaligus mendorong kreativitas para penari dalam mengeksplorasi seni berbasis lingkungan.
Rangkaian kegiatan dimulai dari eksplorasi tari di tepi pantai, kirab budaya menuju pendopo, flashmob tarian nusantara, hingga penampilan tari dari masing-masing sanggar yang sukses memukau penonton.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Asisten Pemerintahan dan Kesra Kabupaten Pemalang , Kepala Bakesbangpol , serta Ketua TP PKK Kabupaten Pemalang .
(Shlh)
